Bisnis Indonesia - bisnis.com
Minggu, 28 Mei 2017

Ngayogjazz 2015, Melihat Keberagaman Jazz Di Pedesaan

Bernadheta Dian Saraswati Minggu, 22/11/2015 05:29 WIB
Ngayogjazz 2015, Melihat Keberagaman Jazz di Pedesaan
Salah satu penampilan dalam Ngayogjazz, Sabtu (20/11/2015).
Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati

Bisnis.com, SLEMAN-Ngayogjazz 2015 kembali menyedot perhatian pecinta musik jazz tanah air. Tak hanya kalangan masyarakat Jogja, gelaran tahunan ini juga menjadi magnet bagi turis asing.

Jam session, begitu para pecinta jazz menyebutnya sebagai waktu memainkan musik jazz, dibuka sejak Sabtu (21/11/2015) pagi hingga jelang tengah malam.

Beberapa musisi jazz Indonesia hadir untuk menyemarakkan suasana. Seperti penyanyi Tri Oetami, Shaharani, Ina Ladies dan masih banyak lagi.

Sebagai pembuka acara, iring-iringan musik jazz melakukan kirab menuju Panggung Sadewa, panggung paling selatan di Pedukuhan Karang Tanjung dan Karang Kepuh, Desa Pendowoharjo, Sleman, tempat digelarnya Ngayogjazz.

Grub jazz asal Jogja, Huaton Dixie, membuka acara dengan lagu bernuansa Jawa, seperti Suwe Ora Jamu dan Getuk. Irama Jawa masih kental terasa meski diiringi dengan gaya jazz.

"Itu sesuai tema yang kami angkat Bhineka Tunggal Jazz-nya yang bermakna keberagaman," kata penggagas Ngayogjazz, Djaduk Ferianto, di sela kegiatan.

Ia sengaja menghadirkan keberagaman di tahun 2015. Tidak hanya jazz kontemporer dan mainstream, Djaduk juga memberikan sentuhan tradisional dalam pertunjukan Ngayogjazz, baik dari sisi penyanyi, alat musik hingga judul lagunya.

Enam panggung yang tersebar di beberapa titik menampilkan kelompok jazz yang berbeda. Seperti Kalimalang Jazz dengan lagu Flaming in the Moon yang tampil di Panggung Werkudara dan Megan O'Donoghe dari Solo yang tampil di Panggung Sadewa. Megan merupakan penyanyi jazz asal Amerika yang tampil mengenakan pakaian Jawa.

Divisi Kreatif Ngayogjazz, Vindra Dirata, mengatakan tema keberagaman kali ini sengaja diangkat untuk meningkatkan kebersamaan, pertemuan antarmasyarakat kota dan pedesaan serta menjauhkan permusuhan.

"Maka kenapa kami milih di desa karena ingin mempertemukan lapisan masyarakat. Orang desa bisa melihat apa itu jazz, orang kota bisa lihat kesenian tradisional," jelasnya di sela-sela acara.

Tak dipungkiri bahwa selama ini masih ada masyarakat yang menganggap musik jazz sebagai musik kaum elite dan berbayar tinggi. Namun dengan konsep Ngayogjazz dari pertama hingga ke sembilan ini, Vindra dan tim ingin semakin mendekatkan jazz pada kalangan menengah ke bawah. Tidak hanya di perkotaan tapi juga pedesaan.

Selain ingin menyuguhkan unsur kesenian bermusik, Ngayogjazz kali ini juga membawa kritik bagi pemerintah. Seperti saat pembukaan Ngayogjazz, ada tokoh 'pejabat tinggi' yang digambarkan dengan pria berdasi yang berjalan menggunakan egrang.

Vindra menjelaskan, tokoh yang diperankan oleh Tejo Badut itu sengaja menyindir bahwa pejabat pemerintah Indonesia kali ini terkadang bersikap seperti badut. "Mereka sering menjadi badut karena tidak merepresentasikan sebagai orang yang dipercaya rakyat," pungkasnya.

Apps Bisnis.com available on:    
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!
Nikmati sajian berita terkini Bisnis Indonesia versi epaper DI SINI.
Nikmati Bonus Indonesia Business Daily (IBD) hingga 31 Oktober 2015. Informasi selengkapnya klik DI SINI.
more...