Bisnis Indonesia - bisnis.com
Rabu, 18 Oktober 2017

Hasil Produksi Digital Printing Juga Bergantung Pada Mesin

Abdul Hamied Razak Senin, 02/11/2015 15:14 WIB
Hasil Produksi Digital Printing Juga Bergantung pada Mesin
Contoh mesin digital printing yang dipamerkan di CES, Jogja Expo Center, Minggu (2/11/2015).
Harian Jogja/Abdul Hamied Razak

Bisnis.com, BANTUL- Bagus tidaknya sebuah produk juga ditentukan oleh peralatan mutakhir. Pengusaha yang terjun dalam bisnis sablon, printing atau percetakan juga harus didukung dengan peralatan mutakhir.

Menurut Branch Manager PT Asaba Cabang Jogja Roberto Eka, perangkat printing yang up to date perlu dimiliki untuk meningkatkan daya saing produksi digital printing baik indoor, outdoor dan lainnya. Kepemilikan perangkat mutakhir, katanya, juga untuk menunjang berkembangnya bisnis tersebut.

"Suatu produk yang dihasilkan sesuai dengan nilai investasi yang dilakukan. Itu hukum ekonominya," kata Robert kepada Harian Jogja, Minggu (1/11/2015) di Jogja Expo Center (JEC).

Dia menilai, perkembangan ekonomi kreatif di bidang ini untuk wilayah DIY ke depan sangat cerah. Bukan saja karena perubahan pola analog ke arah digitalisasi, tetapi juga terkait dengan kebutuhan masyarakat terhadap produk dari industri ini. Misalnya, orang membutuhkan kecepatan untuk memproduksi hasil desain grafis, maka yang dibutuhkan peralatan yang sesuai dengan teknologinya.

‎"Dengan teknologi teranyar, pengusaha juga bisa menekan harga produksi. Awalnya, nyetak banner berbiaya Rp18.000 per meter bisa dipangkas menjadi Rp12.000 per meter," ujarnya.

‎Tak tanggung, pihaknya menargetkan transaksi Rp900 juta untuk penjualan perangkat digital printing di DIY dalam setahun. Sikap optimistis Robert didasarkan pada banyaknya pengusaha di DIY yang terjun dalam bisnis digital printing. Belum lagi, ide-ide kreatif terkait masalah desain yang menurutnya di Jogja sangat berkembang.

"Makanya, kami menawarkan peralatan mesin yang berkualitas. Dari sisi harga, memang kalah dengan produk-produk China, tetapi dari sisi kualitas produk Jepang lebih unggul," kata Robert.

Untuk mesin pemotong stiker misalnya, dia mematok harga Rp17,5 juta per unit. Sementara, untuk mesin pencetak benner dipatok Rp130 juta per unitnya. Menurutnya, tidak ada persoalan dengan kompetitor. Semakin kompetitif bisnis digital printing, juga akan semakin meningkatkan daya kreatifitas masing-masing pengusaha.

"Mesin-mesin ini akan menunjang pertumbuhan ekonomi kreatif  di Jogja. ‎Apalagi, kami memberikan garansi dan pendampingan kepada desainer printing (operator) untuk mengoptimalkan produknya," tutur Rober.

Apps Bisnis.com available on:    
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!
Nikmati sajian berita terkini Bisnis Indonesia versi epaper DI SINI.
Nikmati Bonus Indonesia Business Daily (IBD) hingga 31 Oktober 2015. Informasi selengkapnya klik DI SINI.
more...