Bisnis Indonesia - bisnis.com
Rabu, 18 Oktober 2017

Pengalaman Mahasiswa UNY Mengajar Di Daerah Transmigrasi

Joko Nugroho Rabu, 07/10/2015 14:31 WIB
Pengalaman Mahasiswa UNY Mengajar di Daerah Transmigrasi
Guru Sarjana Mendidik di Dearah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Ahmad Solihun di lokasi prakteknya hingga Juni 2016 mendatang.
Istimewa

Bisnis.com, SLEMAN – Guru Sarjana Mendidik di Dearah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Ahmad Solihun punya pengalaman unik saat penugasan mengajar. Dia mengajar di SMPN 10 Satap (Satu Atap).

SMPN 10 Satap ini terletak di Sesa Seret Ayon, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, kurang lebih 50 – 60 km dari Kecamatan Tebas. Di daerah transmigrasi ini akses menuju sekolah merupakan jalan tanah yang mirip seperti tanah liat bercampur pasir putih.

Jika musim kemarau, tanahnya kering dan berdebu. Sedangkan di musim hujan menjadi becek, bahkan bisa menjebak kendaraan. Ada juga yang sampai tercebur tenggelam karena banjir.

Dia bertugas selama setahun hingga Juli 2016 di Tebas. Dikatakannya bahwa di sekolah ini Kepala Sekolahnya merangkap juga sebagai Kepala SD 49 Satap Tebas, yang lokasinya berdekatan dengan SMP.

“Namanya juga sekolah satu atap yang merupakan gabungan dari SD dan SMP. Kepala Sekolah untuk SMP baru ada pada 2013,” kata Solihun mengisahkan pada Harian Jogja.

Pria kelahiran 2 April 1992 tersebut mengatakan bahwa sekolah ini mempunyai tujuh orang guru, empat laki-laki dan tiga perempuan yang semuanya adalah tenaga honor. Tiga orang guru juga mengajar di SD 49 Satap Tebas.

Kepala Sekolah merupakan satu-satunya Pegawai Negeri Sipil (PNS), sekalipun baru golongan IIA. Mata pelajaran Bahasa Indonesia di pegang oleh guru sarjana pendidikan Islam, matematika dipegang oleh lulusan SMA, pelajaran IPA dipegang oleh mahasiswa universitas terbuka (UT) jurusan Biologi.

Siswanya sendiri berjumlah 33 orang yang terdiri dari 12 siswa kelas VII, 16 siswa kelas VIII dan 5 siswa kelas IX. Gedung untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terdiri dari tiga ruangan untuk tiga kelas dan satu ruang kantor. Di bangun tahun 2012/2013 dengan sumber dana dari Pemerintah Australia (AusAID).

“Listrik PLN belum masuk, baru ada panel surya. Itupun bantuan yang diberikan belum lama ini,” lanjut Solihun.

Uniknya, jam kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada sore hari. Masuk pukul 13.00 WIB dan pulang pukul 17.20 WIB. Satu jam berdurasi 35 menit. KBM berlangsung sore hari karena ada beberapa guru yang juga mengajar di sekolah lain, ada guru yang tidak menginap di sekitar lokasi sekolah, dan juga tenaga gurunya semua honorer.

“Guru yang mengajar juga belum tentu hadir. Kadang hanya kami dari SM-3T yang menangani padahal tidak punya jadwal mengajar,” kata Solihun lagi.

Bila ada guru yang tidak hadir para guru SM3T yang masuk ke kelas, karena banyak masyarakat mengeluh dengan alasan anak-anak di sekitar Seret Ayon yang ingin belajar tapi tidak ada gurunya. Para siswa yang duduk di bangku kelas IX mengatakan bahwa pada saat kelas VII dan VIII dulu sering kosong karena gurunya tidak ada, jadi banyak yang ketinggalan pelajaran.

Alumni prodi pendidikan fisika FMIPA UNY ini tinggal di mess guru yang dahulu bekas kantor sekretariat transmigrasi. Bila ada waktu longgar mereka menyempatkan untuk jalan-jalan sesekali mampir ke rumah warga.

“Banyak cerita yang kami tangkap. Kebanyakan mengenai masalah yang ada di lokasi transmigrasi ini. Jadi SMPN 10 Satap Tebas terletak di daerah transmigrasi yang berjumlah sekitar 350 KK, angkatan 2007 dan 2009. Warga transmigran berasal dari Bandung, Tasikmalaya, Garut, Brebes, Kudus, dan Jogjakarta. Ada juga yang warga Dayak. Semua siswa adalah orang transmigrasi, SMP maupun SD,” tutupnya.

Apps Bisnis.com available on:    
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!
Nikmati sajian berita terkini Bisnis Indonesia versi epaper DI SINI.
Nikmati Bonus Indonesia Business Daily (IBD) hingga 31 Oktober 2015. Informasi selengkapnya klik DI SINI.
more...